Indonesia Negara Pertama Pemberi Bantuan ke Gaza di Tahun 2011

Indonesia tercatat sebagai negara pertama yang memberikan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina pada tahun 2011. “Kami menyambut baik bantuan kemanusiaan dari rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina, dan ini merupakan bantuan pertama dari luar negeri untuk tahun baru 2011,” kata Ketua Bulan Sabit Merah Sinai Utara, Mesir, Jenderal (Purnawirawan) Osama Serghani di Rafah, pintu perbatasan Mesir-Gaza, Ahad (2/1).

Serghani mengungkapkan bahwa bantuan kemanusiaan kepada Palestina dari luar negeri kedua setelah Indonesia adalah kapal Asia Caravan-1 yang akan merapat di Pelabuhan Rafah pada Ahad (2/1) petang, beberapa jam setelah penyerahan bantuan dari Indonesia.
Kapal Asia Caravan-1 itu mengangkut 170 ton bantuan kemanusiaan ke Gaza. Read more of this post

Gaza Tidak Membutuhkan Aku..

Ini tulisan dari mbak Santi Soekanto, wartawati senior, istri mas Dzikrullah. Wisnu Ramudya (wartawan juga) yang keduanya ikut dalam rombongan kapal Mavi Marvara. Tulisan ini dibuat hari Sabtu, 29 Mei 2010. Isinya sangat menggugah. Semoga bermanfaat!

GAZA TIDAK MEMBUTUHKANMU !

Di atas M/S Mavi Marmara, di Laut Tengah, 180 mil dari Pantai Gaza. Sudah lebih dari 24 jam berlalu sejak kapal ini berhenti bergerak karena sejumlah alasan, terutama menanti datangnya sebuah lagi kapal dari Irlandia dan datangnya sejumlah anggota parlemen beberapa negara Eropa yang akan ikut dalam kafilah Freedom Flotilla menuju Gaza. Kami masih menanti, masih tidak pasti, sementara berita berbagai ancaman Israel berseliweran.

Ada banyak cara untuk melewatkan waktu – banyak di antara kami yang membaca Al-Quran, berzikir atau membaca. Ada yang sibuk mengadakan halaqah. Beyza Akturk dari Turki mengadakan kelas kursus bahasa Arab untuk peserta Muslimah Turki. Senan Mohammed dari Kuwait mengundang seorang ahli hadist, Dr Usama Al-Kandari, untuk memberikan kelas Hadits Arbain an-Nawawiyah secara singkat dan berjanji bahwa para peserta akan mendapat sertifikat. Read more of this post

Kisah Astronom dari Medan Perang Gaza

Kisah perjalanan Baraka Suleiman, seorang astrofisikawan ini sungguh mengharukan. Dilahirkan sebagai anak tertua dari 14 bersaudara dari seorang tukang daging yang miskin di sebuah medan pertempuran yang ganas di Gaza, ia bangkit menjadi seorang astrofisikawan yang sempat bekerja di NASA, badan antariksa Amerika Serikat.

Sekarang, pada usia 45 tahun, ia pulang kampung dengan misi baru. Dari kawasan yang diblokade Israel, ia akan mengajar anak-anak untuk melihat keindahan alam semesta yang tidak terbatas. Read more of this post